Home › PEOPLE

Sosok Rizqa Aulya AR: Jalan Sunyi Merawat Peradaban Lewat Tari

Ahmad Riadi
Rizqa Aulya AR (Foto: Dok. Pribadi)
Rizqa Aulya AR (Foto: Dok. Pribadi)

SELAYAR, Quarta.id- Modernisasi kerap menawarkan paradoks. disatu sisi hadir dengan kebaruan, dan dalam waktu yang sama, mereduksi nilai-nilai tradisi yang secara turun-temurun mengakar dalam masyarakat.

Dalam konteks kebudayaan, hilangnya nilai-nilai dimaksud, kemudian tergantikan oleh pola pikir dan cara pandang baru berbalut pop culture yang kadang melenceng jauh dari identitas dasar kita sebagai masyarakat Indonesia.

Padahal, keberadaan tradisi seperti halnya seni tari, selain sebagai identitas, juga menjadi tuntunan hidup dan perekat pada hubungan antar individu dan juga relasi manusia dengan alam, serta Sang Pencipta yang perlu terus kita rawat.

BACA JUGA: Menyelami Tradisi dan Kearifan Lokal Kampung Tenro, Salah Satu Dusun pada Desa Wisata Bontolempangan Kepulauan Selayar

Pada berbagai wilayah di Nusantara, tari tradisi tetap lestari sebagai bagian yang integral dengan kehidupan sosial, namun banyak pula yang perlahan hilang di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman.

Siapapun yang kemudian mewakafkan diri untuk merawat, seni, tradisi dan kearifan lokal, perlu kita tempatkan pada derajat tertinggi sebagai penjaga marwah peradaban.

Mereka kadang bekerja dalam sunyi, jauh dari hingar bingar dan berbuat tanpa pamrih. Rizqa Aulya AR (29), bisa jadi salah satu diantara sedikit yang hadir pada tugas mulia merawat nilai-nilai agung dari tradisi dan kearifan lokal. tersebut.

BACA JUGA: Digelar Dua Hari, Festival Selayar Tempo Doeloe Ajak Gen Z Kenal dan Cintai Pangan Lokal Bumi Tanadoang

Sosok pengajar pada salah satu sekolah menengah pertama di Kepulauan Selayar ini sejatinya memang mendapatkan amanah pada bidang studi seni. Posisi yang menjadi ruang dirinya bereksplorasi pada minat dan cita-cita yang telah dibangunnya sejak kecil.

“Ketertarikan saya terhadap seni, khususnya seni tari, sebenarnya sudah tumbuh sejak saya masih kecil. Saya memang memiliki ketertarikan yang kuat terhadap gerak, musik, dan proses menciptakan sesuatu yang bisa dinikmati orang lain,” ucapnya kepada Quarta.id, Sabtu (26/9/2026).

Kecintaannya pada seni tari, dibuktikan dengan perjalanan akademik yang tak pernah benar-benar lepas dari dunia seni.

BACA JUGA: Bupati Natsir Ali Dorong Seni dan Tradisi Selayar Jadi Muatan Lokal di Sekolah

Menempuh pendidikan S1 Sendratasik di Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 2014, Rizqa kemudian melanjutkan pada jenjang S2 Pendidikan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2019.

Pun, ketika memasuki babak baru sebagai abdi negara, rutinitas sebagai guru pada bidang seni, tidak saja menjadi profesi formal, dalam perjalanannya, Rizqa terlahir menjadi salah satu penggiat seni di Bumi Tanadoang dengan karya seni yang ikonik.

Tari A Papotok Batara ri Bungaiya, menjadi salah satu bukti dirinya sebagai pelaku seni di Kepulauan Selayar yang patut diperhitungkan.

Mendapatkan prestasi pada sejumlah ajang, karya Tari Apapotok Batara ri Bungaiya kemudian didaulat tampil pada sejumlah festival seni dan budaya di Selayar,

BACA JUGA: Tari Appapotok Batara ri Bungaiya Pukau Partisipan Festival Selayar Tempo Doeloe

Terakhir, Tari Apapotok Batara ri Bungaiya, mengisi line up Festival Harmoni Musik Silajara, setelah sebelumnya tampil memukau pada Festival Selayar Tempo Doeloe.

Tari yang bercerita tentang tradisi di Selayar ini, secara umum menyampaikan pesan terkait harmoni manusia dan alam pada kehidupan masyarakat petani di Bumi Tanadoang.

“Tradisi ini memiliki nilai budaya yang kuat karena tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pertanian, tetapi juga menggambarkan hubungan masyarakat dengan alam, kerja sama, ketekunan, dan rasa syukur atas hasil panen. Nilai-nilai itulah yang kemudian saya coba terjemahkan ke dalam gerak, pola lantai, dan suasana tari,” tambah Rizqa.

BACA JUGA: Seni Bertutur Didek di Kepulauan Selayar, Warisan Budaya Takbenda yang Kini Dibuatkan Kampung Tematik

Bagi Rizqa, menekuni seni tari, baik sebagai pendidik dan sebagai penggiat menjadi jembatan dirinya memelihara dan mentransormasi nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Karena seni dan budaya bukan sekadar pelajaran, tetapi bagian dari identitas mereka. Anak-anak perlu mengetahui dari mana mereka berasal dan mengenal kekayaan budaya yang ada di lingkungan mereka sendiri,” lanjutnya.

Perempuan yang hobi renang dan kulineran ini, menilai perlu lebih banyak individu yang terlibat dan ambil peran dalam menjaga peradaban kita melalui seni, termasuk penguatan pada pendidikan formal kita.

“Saya melihat masih ada ruang yang besar untuk mengembangkan pembelajaran seni agar lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.,” kata Rizqa.

Sebagai penggiat dan pendidik, dirinya berkeinginan menjadikan seni sebagai salah satu cara untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya nusantara.

“Semoga ke depan, seni di Selayar terus tumbuh, tidak hanya tampil di panggung lokal, tetapi juga dapat dikenal dan diapresiasi pada tingkatan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08