Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Tari tak semata tentang gerakan indah dan formasi yang memukau. Tari adalah media penyampai pesan dan cerita melalui ritmis dan ekpresi sang penari. Tari bukan hanya bahasa tubuh, di dalamnya ada ungkapan dan bahasa jiwa yang sarat akan makna.
Di beberapa daerah, tarian adalah bagian yang integral dari budaya dan sistem nilai yang ada. Keberadaanya bukan gerakan spontan, melainkan hasil dari sebuah proses panjang dari perjalanan hidup dan peradaban masyarakat setempat.
BACA JUGA: Festival Selayar Tempo Doeloe 2026: Angkat Isu Pangan Lokal, Tampilkan Atraksi Budaya Agraris
Dalam konteks seni pertunjukan, koreografer kerap menjadikan tari sebagai medium untuk kembali kepada cerita dan nilai-nilai luhur dari peradaban di masa lampau. Tari Appapotok Batara ri Bungaiya salah satunya.
Tampil pada Festival Selayar Tempo Doeloe 2026 yang berlangsung dari 22-23 Agustus di Dusun Tajuia, Desa Bungaiya, enam orang penari dari UPT SMPN Satu Atap Bonelohe Kepulauan Selayar tersebut, berhasil memukau partisipan acara.
Tepuk riuh dan sorak sorai penonton mengiringi setiap gerak dan liukan tubuh tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan dalam balutan kostum berwarna putih.
Appapotok sendiri merupakan aktivitas pasca panen, dimana jagung diikat dalam jumlah dan formasi tertentu, sebelum kemudian dibawah ke rumah dan disimpansebelum diolah kembali menjadi bahan makanan.
Appapotok Batara ri Bungaiya, secara harafiah diartikan sebagai ritual mengikat jagung secara gotong-royong dengan segala tuntunan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu di Kepulauan Selayar, termasuk di Desa Bungaiya yang menjadi basis tumbunya budaya agraris masyarakat Bumi Tanadoang.
Appapotok Batara ri Bungaiya mengisahkan kearifan lokal masyarakat Desa Bungaiya yang diwariskan turun-temurun melalui tradisi panen jagung.
“Perjalanan diawali dengan A’Lamung, saat benih harapan ditanam di tanah yang subur. Ketika musim panen tiba, masyarakat bersama-sama melakukan Appasanneng , dilanjutkan dengan Anynyappe mengumpulkan hasil panen, hingga Ammotok Batara mengikat untaian jagung sebagai simbol kerja keras dan kebersamaan,” ungkap Rizqa Aulya AR, pembina sekaligu koreografer dari Tari A Papotok Batara ri Bungaiya.
Rizqa menambahkan, Appapotok Batara ri Bungaiya juga mengilustrasikan tradisi mengikat jagung sebagai ruang interaksi antara muda-mudi di masa lampau, dimana komunikasi antar individu lebih banyak tercipta dari aktivitas bernuansa tradisi.
“Di balik hangatnya gotong royong, terjalin pula kisah para pemuda dan pemudi yang saling mengenal, hingga panen tak hanya menghadirkan limpahan hasil bumi, tetapi juga mempertemukan hati dan menumbuhkan benih-benih cinta,” lanjut Rizqa.
Tari Appapotok Batara ri Bungaiya adalah gambaran utuh dari spirit dan semangat kebersamaan, rasa syukur, dan keindahan tradisi masyarakat Desa Bungaiya dan Kepulauan Selayar yang hadir sebagai warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.