Citra Wardhani
SELAYAR, Quarta.id- Coral bleaching atau pemutihan karang adalah kondisi menurunnya kualitas karang yang disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan, khususnya suhu, penyinaran matahari secara berlebihan, infeksi bakteri, penyakit karang, dan tekanan dari lingkungan.
Peningkatan suhu disebut dapat menyebabkan karang menjadi stress, sehingga sangat rentan mengalami kematian apabila tidak memiliki ketahanan dan kelentingan untuk dapat melewati masa tersebut dan kembali ke kondisi semula.
Akun resmi Taman Nasional Taka Bonerate di instagram @btn_takabonerate memberikan ilustrasi terkait coral bleaching sebagai ancaman terhadap keberlangsungan lingkungan.
“Dulu, karang dan alga hidup seperti teman sekamar yang saling menguntungkan. Alga Zooxanthellae — si mikroskopis hijau—tinggal di dalam jaringan polip karang. Dia memberi warna dan 90% kebutuhan nutrisi. Karang balik memberi tempat tinggal,” tulis akun itu beberapa waktu lalu.
BACA JUGA: Lakukan Penelitian di Kepulauan Selayar, Akademisi Ini Ingatkan Bahaya Mikroplastik
Kondisi alam yang berubah sedemikian rupa, kemudian menjadi pemicu coral bleaching.
Lalu laut memanas drastis karena perubahan iklim, polip karang stres. Merasa “diganggu”, dia melakukan hal yang bunuh diri secara perlahan: mengusir alga itu keluar.
“Yang tersisa hanyalah kerangka putih rapuh, tanpa alga, karang kehilangan sumber makanan dan warna. Dia masih hidup, tapi perlahan mati kelaparan,” lanjut akun itu.
Dilansir dari sumber yang sama, dampak coral bleaching bukan cuma pemandangan bawah laut yang kehilangan keindahan, namun juga gangguan pada biodiversita yang tergangu. Ribuan spesies ikan kehilangan rumah dan tempat berlindung.
“Rantai makanan putus. Ikan kecil kehilangan sumber makan, predator besar ikut kelaparan, lalu ekonomi pesisir terancam. Nelayan gagal panen, wisatawan pergi. Pendapatan daerah ambruk,” imbuh akun instagram Taman Nasional Taka Bonerate.