Spot untuk Aktivitas Ngabuburit di Selayar, dari Rimbunnya Mangrove hingga Sejuknya Alam Perbukitan

Ahmad Riadi
Ilustrasi aktivitas menunggu waktu berbuka puasa atau lazim disebut ngabuburit. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi aktivitas menunggu waktu berbuka puasa atau lazim disebut ngabuburit. (Foto: Istimewa)

SELAYAR, Quarta.id- Ngabuburit adalah istilah untuk menggambarkan aktivitas menunggu sore atau jelang berbuka puasa. Burit sendiri berasal dari bahasa sunda yang berarti sore hari.

Kegiatan ngabuburit kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama anak muda, pada bulan ramadan.

Pada setiap daerah terdapat tempat-tempat yang biasanya menjadi lokasi untuk kegiatan ngabuburit.

BACA JUGA: Tidak Hanya Bahari, Ini Sederet Spot Wisata Perbukitan di Kepulauan Selayar

Di Kepulauan Selayar misalnya, masyarakat lokal memiliki tempat-tempat favorit yang menjadi objek kunjungan untuk melewatkan waktu, jelang berbuka puasa.

Di Kota Benteng, sepanjang daerah pantai, tentu menjadi pilihan paling dekat bagi warga Ibu Kota Kepulauan Selayar menikmati senja.

Namun, jika ingin menikmati suasana yang berbeda, warga kota atau siapapun yang bertandang ke daerah ini, dapat memilih alternatif lainnya.

Kawasan Mangrove Matalalang

Dengan lokasi yang hanya berjarak sekitar 3 km dari Kota Benteng, Kawasan Mangrove Matalalang bisa jadi salah satu pilihan untuk bersantai jelang waktu buka puasa.

Semilir angin laut, rimbun pohon mangrove dan kicauan burung yang sesekali terdengar, akan memberi warna berbeda saat Anda melewatkan waktu bersama teman, keluarga atau pasangan di lokasi ini.

Hanya saja, rentang waktu antara November hingga Februari, terjadi siklus munson barat yang menyebabkan angin bertiup dalam intensitas yang tinggi.

BACA JUGA: Kampung Tua Bitombang, Rumah Bertiang Tinggi dan Kearifan Lokal yang Tetap Lestari

Kawasan Mangrove Matalalang menjadi salah satu lokasi yang terkena imbas dari angin munson barat.

Di luar itu, tempat ini bisa menjadi pilihan favorit untuk menikmati semburat merah di kaki langit dan suasana sejuk jelang matahari tenggelam.

Puncak Tanadoang

Bergeser sekitar 10 km meter ke arah timur Kota Benteng, ada Puncak Tanadoang yang bisa menjadi destinasi untuk melewatkan aktivitas ngabuburit.

Dengan fasilitas cafe dan mushollah yang terdapat pada lokasi yang dielola oleh Pemerintah Desa Bontomarannu ini, Anda tidak perlu khawatir dengan urusan berbuka puasa dan sholat magrib setelahnya.

Ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 30 menit dari Kota Benteng, demikian pula sebaliknya, Puncak Tanadoang adalah pilihan ideal menikmati senja hari jelang berbuka puasa.

Memasuki lokasi ini, pengunjung akan dikenakan tarif khusus sebesar Rp5000.

Museum Tanadoang

Melewatkan waktu jelang berbuka puasa, tak melulu dengan kegiatan menikmati keindahan alam.

Dekat dari lokasi Hutan Mangrove Matalalang, terdapat sebuah muesum yang menyimppan aneka penggalan sejarah Kepulauan Selayar.

Pada bangunan berbentuk rumah panggung ini, pengunjung akan disuguhi dengan benda-benda kuno yang menjadi literatur perjalanan panjang sejarah Bumi Tanadoang.

BACA JUGA: Masjid Tua Lalang Bata: Jejak Sejarah Masuknya Islam di Kepulauan Selayar

Ada keping uang logam dan keramik,. laman pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id menyebut benda-benda itu diantaranya berasal dari Cina pada zaman Dinasti Ming, Swatow dan Dinasti Sung.

Di museum tersebut juga terdapat miniatur perahu layar Kepulauan Selayar yang disebut Lambo. Lambo pada zaman dahulu digunakan sebagai alat transportasi ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Ada pula keris, baju adat dan berbagai perkakas yang digunakan oleh penduduk Selayar pada zaman dahulu.

Berkunjung ke tempat ini, bisa sekaligus menjadi ajang edukasi terkait sejarah dan peradaban tempo dulu masyarakat Selayar.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08