Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Kondisi udara pada sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan disebut mengalami degradasi akibat paparan asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla0 di wilayah Kalimantan.
Muh Imran selaku Pengamat Meteorologi dan Geofisika BBMKG Wilayah IV Makassar yang dihubungi Quarta.id, Sabtu (10/10/2026) menya,menyampaikan kondisi udara dengan konsentrasi PM2,5 (partikel udara berukuran 2,5 mikron atau lebih kecil) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melonjak dalam beberapa waktu terakhir.
“Kajian BMKG akan terus meng-update kondisi kualitas udara, terutama terkait konsentrasi PM2,5,” ucapnya.
BACA JUGA: Warning! Hasil Penelitian, Polusi Udara Dapat Memperpendek Usia Harapan Hidup
Berdasarkan informasi peringatan dini kualitas udara dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat 12 wilayah di Sulawesi Selatan yang masuk kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Makassar, Gowa, Maros, Barru, Bone, Bantaeng, Bulukumba, Parepare, Sidrap, Sinjai, Soppeng, dan Wajo.
Di Kepulauan Selayar, meskipun belum ada warning terkait kondisi udara, sebagian warga mu;lai mengeluhkan kondisi mata perih dan gangguan pernapasan.
“Napas agak berat, beberapa kali batuk-batuk,” ujar Ardiansyah (45), warga Kecamatan Bontomatene, Selasa (13/10/2026).
Hal senada disampaikan Sri Dahlia (46) yang menyebut kondisi napas agak berat dalam dua terakhir ini.
“Agak sesak napas, meskipun belum kategori mengganggu,” ucap Sri Dahlia.
Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Selayar, dr. Frenky, kepada Quarta.id, menyampaikan himbauan agar mengatur aktivitas selama kondisi munculnya kabut asap di Kepulauan Selayar.
“Sesuai himbauan dari Pemerintah Provinsi, masyarakat diarahkan untuk memakai masker, menjaga kondisi tubuh dan membatasi aktivitas di luar rumah,” katanya, Sabtu (10/10/2026) lalu.
BACA JUGA: Kerap Jadi Solusi pada Aksi Bersih Lingkungan, Ini Sederet Bahaya Membakar Sampah Plastik
Sekitar 80-90% asap karhutla disebutkan mengandung komponen particulate matter (PM) yang berukuran ≤ 2,5 µm (PM2.5). Peningkatan konsentrasi PM2.5 berkorelasi dengan gangguan kesehatan terutama pada organ paru., sebagaimana dimuat pada lamanUniversitas Indoneisa, ui.ac.id.
Hal ini mengemuka pada sidang promosi doktor, Program Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PDIB FKUI) pada Selasa, 26 Mei 2026, dr. Uly Astuti Siregar, M.Biomed. mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efek Paparan PM2.5 Asap Biomassa Gambut terhadap Kerusakan Paru: Kajian terhadap Stres Oksidatif, Polarisasi Makrofag, dan Deposisi Serat Kolagen.”
BACA JUGA: Disorot Bupati, Ini Bahaya Aktivitas ‘Ngelem” untuk Anak di Bawah Umur
Kebanyakan penelitian mengenai PM2.5 asap gambut, khususnya akibat karhutla, difokuskan pada segi okupasi dan epidemiologi. Di sisi lain, komposisi kimiawi partikel asap gambut memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan emisi kendaraan bermotor maupun industri.
Riset Disertasi ini dilakukan untuk mengatasi kesenjangan tersebut, mencoba menginvestigasi jalur patobiologi dari stres oksidatif, inflamasi, hingga kerusakan jaringan paru yang bersifat permanen.
Karena ukurannya yang sangat kecil, PM2.5 dapat meloloskan diri dari saringan saluran napas atas dan masuk hingga ke bagian terkecil dan terdalam jaringan paru, yaitu alveolus.
Melalui studi eksperimental menggunakan hewan coba tikus yang dipaparkan PM2.5 secara terkontrol, membuktikan elemen logam transisi pada PM2.5 dan komponen karbon organik PAH berhasil mengubah sel-sel imun pada jaringan paru, terutama makrofag menjadi ‘pabrik’ penghasil Radikal Bebas (Reactive Oxygen Species/ROS) secara berlebihan.