Citra Wardhani
SELAYAR, Quarta.id- Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Selayar memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada Rabu, 28 Oktober hari ini dengan sejumlah aktivitas di lingkungan sekolah.
Selain upacara sebagai agenda reguler, SMA Negeri 2 Selayar yang beralamat di Batangmata, Kecamatan Bontomatene, menggelar dialog lingkungan dengan beberapa orang narasumber, salah satunya, pemerhati sampah laut asal New Zealand, Chris.
Hadir pula, Anjar S. Masigai dari organisasi Kolaborasi Biru dan Ahmad Riyadi dari Gerakan Selayar Bebas Sampah Plastik (SBSP).
BACA JUGA: Akademi Bijak Plastik: Cara Komunitas Lingkungan di Selayar Perkenalkan Gaya Hidup Berkelanjutan
Chris bertandang ke Kepulauan Selayar dalam rangka pemetaan problem persampahan, terutama sampah pesisir. Menurutnya, persoalan sampah di laut menjadi isu global yang harus segera diurai dan mendapat solusi komprehensif.
Di depan peserta dialog yang terdiri dari puluhan siswa SMAN 2 Selayar, Chris menyampaikan pentingnya seluruh komponen, mulai pemerintah, komunitas, seperti halnya sekolah, hingga level individu, untuk ambil peran sesuai porsi masing-masing.
“Siswa harus diarahkan untuk melakoni gaya hidup zero waste, sementara sekolah harus menerapkan sistem dan tata kelola sampah di lingkup sekolah,” ucap Chris.
Siswa diberikan kesempatan untuk berdiskuasi dan menyampaikan gagasan terkait persoalan sampah di lingkungan masing-masing.

Adapun Ahmad Riyadi dari SBSP dan Anjar S. Masigai dari Kolaborasi Biru, sama-sama mendorong lingkungan sekolah sebagai pionir dalam mengurangi volume sampah.
“Siswa didorong untuk secara ketat menerapkan gaya hidup zero waste, dan disatu sisi seluruh perangkat sekolah, seperti guru dan tata kelola sampah pada lingkungan sekolah, memberi dukungan yang konsisten,” kata Anjar.
BACA JUGA: Ratusan Perwakilan Sekolah di Kepulauan Selayar Serukan Komitmen Sekolah Bijak Plastik
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Riyadi berharap, komitmen sekolah untuk menerapkan tata kelola sampah berbasis lokal. “Sekolah dapat memberi kontribusi untuk mengurangi sampah melalui sistem di lingkungan sekolah, semisal kwajiban bawa tumbler dan mengurangi penggunaan material sekali pakai pada aktivitas sekolah,” lanjut Riyadi.
Kepala Sekolah SMAN 2 Selayar, Tajuddin, menyampaikan praktik baik pada lembaga yang dinaunginya dalam hal penerapan prinsip zero waste.

“Kantin dan aktivitas lain sudah kita arahkan untuk meminimalkan penggunaaan material sekali pakai,” ucapnya.
Melalui dialog bersama pemerhati dan praktisi lingkungan ini, SMAN 2 Selayar berinisiatif untuk terus mempertahankan pendekatan 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) secara berkelanjutan.