Peringati Hari Pariwisata Dunia: Yuk, Kenali Tiga Warisan Budaya Tak Benda Kepulauan Selayar!

Ahmad Riadi
Penampilan kesenian Didek. (Foto: Istimewa)
Penampilan kesenian Didek. (Foto: Istimewa)

SELAYAR, Quarta.id– Hari Pariwisata Sedunia (World Tourism Day) adalah peringatan internasional yang diadakan setiap tanggal 27 September sejak tahun 1980 oleh UN Tourism (Organisasi Pariwisata Dunia di bawah PBB).

Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pariwisata bagi kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi global serta mendorong sektor pariwisata agar ikut menjaga kelestarian alam dan budaya.

Secara global, peringatan ini juga memiliki visi mempererat hubungan antarbudaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

BACA JUGA: Menyelami Tradisi dan Kearifan Lokal Kampung Tenro, Salah Satu Dusun pada Desa Wisata Bontolempangan Kepulauan Selayar

Untuk mendorong pemahaman terkait kekayaan budaya Kepulauan Selayar, Quarta.id merangkum informasi terkait seni dan tradisi dari Kepulauan Selayar yang telah memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)

Adapun Warisan budaya tak benda adalah praktik, pengetahuan, tradisi, dan seni yang tidak berwujud fisik tetapi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya

Kesenian Didek

Didek adalah tradisi lisan masyarakat Kepulauan Selayar yang di masa lampau, kerap dimainkan pada beberapa momen sosial kemasyarakatan.

Resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda Kepulauan Selayar sejak tahun 2018 lalu.

Dari beberapa sumber disebutkan, Didek adalah seni bertutur yang dilantunkan oleh pasangan laki-laki dan perempuan dengan formasi tertentu, biasanya oleh dua orang perempuan dan empat orang laki-laki.

BACA JUGA: Sosok Rizqa Aulya AR: Jalan Sunyi Merawat Peradaban Lewat Tari

Didek memiliki relasi yang erat dengan budaya agraris, dimana pada masyarakat tradisional di Selayar, Didek ditampikan saat seremoni A Motok Batara (mengikat jagung hasil panen) secara gotong royong.

Didek dimainkan dengan iringan rebana. Kini, biasanya dipertontonkan pada beberapa seremoni sosial kemasyarakatan, seperti Peringatan Hari Jadi Selayar dan festival seni dan budaya di Bumi Tanadoang.

Battik-Battik

Ditetapkan menjadi WBTB pada tahun 2021, Battik-Battik juga menjadi salah satu tradisi lisan Kepulauan Selayar yan autentik. Dilantunkan oleh pasangan laki-laki dan perempuan secara tunggal dengan iringan gambus serta rebana.

Adapun narasi yang dimainkan bersifat spontanitas (tanpa naskah). Menuturkan hal-hal yang berkaitan dengan pesan moral, humor dan asmara antar muda-mudi.

Battik-Battik biasanya menjadi hiburan pada pesta pernikahan atau acara adat dan kerap masih dipertunjukkan oleh sebagian besar masyarakat Selayar.

Anjala Ombong

Dikutip dari pariwisata.kepulauanselayarka.go.id, Anjala Ombong adalah aktivitas bernuansa kearifan lokal, dimana penduduk kampung beramai-ramai menangkap ikan dan makan bersama dilokasi kegiatan.

Adapun aneka macam ikan yang mulai dipanggang sebelum acara berlangsung, dipersiapkan dan dibawa oleh para warga. Ikan dan aneka ragam kerang, memang sangat mudah didapatkan diberbagai tempat di pesisir pantai Kepulauan Selayar.

BACA JUGA: Tari Appapotok Batara ri Bungaiya Pukau Partisipan Festival Selayar Tempo Doeloe

Ritual ini merupakan akar budaya maritim di Kecamatan Bontosikuyu yang terletak di Selatan Pulau Selayar.

Pada pelaksanaan kegiatan, terdapat sejumlah tuntunan yang dipandu oleh tokoh dan pemandu adat setempat.

Anjala Ombong dicatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2021.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08