Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Pasca insiden tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Pulau Polassi Kepulauan Selayar pada 15 Juli lalu, sejumlah respons bermunculan.
Beberapa kalangan menilai Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar lamban dalam hal manajemen krisis. Berhitung jam pasca kejadian, publik disebut tidak memiliki rujukan informasi yang resmi dan melembaga.
Pantauan Quarta.id, update informasi lebih banyak berasal dari kanal-kanal online, serta akun personal.
“Kita terlihat tidak siap pada kondisi krisis saat KM Nurul Salsa tenggelam,” ungkap Daeng Marowa dari Komunitas Sileya Peduli, salah satu NGO (Non Government Organization) di Kepulauan Selayar.
Pakar IT dan Pemerhati Masalah Sosial ini menyebut, struktur birokrasi cenderung tidak presisi dalam hal komunikasi publik sehingga banyak informasi yang bias.
“Seharusnya ada tim yang sudah baku dan langsung bisa bekerja saat terjadi insiden kebencanaan, organnya dari seluruh level birokrasi dan lintas lembaga,” lanjut Marowa.
BACA JUGA: Kota Benteng Dipasangi Peta Evakuasi Tsunami, BMKG: Peluang Tsunami Ada, Harus Tetap Waspada!
Berjalin kelindan dengan kondisi dimaksud, lima hari setelah perstiwa nahas tenggelamnya KM Nurul Salsa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Selayar melontarkan wacana pengadaan fasilitas call center.
Melansir dari kepulauanselayarkab.go.id, Pemkab Kepulauan Selayar menggelar rapat koordinasi rencana pengadaan layanan Call Centre Kedaruratan 112 bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Acara berlangsung di ruang kerja Penjabat Sekretaris Daerah (Pj. Sekda) Kepulauan Selayar, Andi Abdurrahman, SE., M.Si., Senin (20/7/2026).
Rapat dipimpin oleh Pj. Sekda Andi Abdurrahman dan dihadiri Kasat Pol PP, Kalaksa BPBD, Kepala Dinas Kesehatan, perwakilan Kodim, perwakilan Polres Kepulauan Selayar, Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian, Dinas Perhubungan, ORARI, serta sejumlah instansi terkait.
Dalam rapat tersebut, Staf Ahli Kemkomdigi, Nining, menyampaikan bahwa Kabupaten Kepulauan Selayar perlu segera menetapkan layanan panggilan darurat 112 sebagai sistem layanan terpadu untuk penanganan berbagai kondisi kedaruratan.
Karakteristik wilayah Kepulauan Selayar yang kerap menghadapi berbagai potensi bencana dan keadaan darurat, menjadi salah satu parameter pentingnya kehadiran layanan 112.
Pemkab juga didorong untuk segera menyiapkan mekanisme pembentukan layanan, termasuk regulasi, SDM dan infrastruktur pendukungnya
Hingga hari ke-7 tenggelamnya KM Nurul Salsa, sebanyak 59 korban telah ditemukan, terdiri atas satu orang nahkoda selamat, tujuh orang anak buah kapal (ABK) selamat, dan 50 penumpang selamat. Jumlah penumpang yang tercatat oleh Basarnas sebanyak 76 orang, sedangkan dalam manifest kapal hanya tercatat 45 orang.