Dari Diskusi Komunitas dan Pegiat Wisata Kepulauan Selayar: Menakar Tantangan dan Peluang Pariwisata di 2025

admin
Diskusi perwakilan komunitas dan pegiat pariwisata di Kepulauan Selayar, Jumat (21/3/2025) di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar. (Foto: Istimewa)
Diskusi perwakilan komunitas dan pegiat pariwisata di Kepulauan Selayar, Jumat (21/3/2025) di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar. (Foto: Istimewa)

BENTENG, Quarta.id- Pariwisata di Kepulauan Selayar dinilai memiliki kompleksitasnya sendiri pada tahun 2025 ini.

Efisiensi anggaran yang merupakan kebijakan nasional, disebut akan memberi dampak pada seluruh sektor pembangunan di daerah, termasuk pariwisata.

Dalam koteks otonomi daerah, pemerintah kabupaten dituntut untuk melahirkan kebijakan yang presisi agar tetap produktif di tengah tuntutan penghematan pada berbagai lini.

BACA JUGA: Perkuat Promosi dan Pemasaran, Disparbud Kepulauan Selayar Rancang Puluhan Event Wisata Tahun 2025

Hal ini mengemuka pada diskusi perwakilan komunitas dan pegiat pariwisata di Kepulauan Selayar, Jumat (21/3/2025) di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar.

Meski demikian, sejumlah peluang dinilai menjadi angin segar untuk kemajuan sektor pariwisata di Bumi Tanadoang, julukan Kepulauan Selayar.

Hadirnya kembali penerbangan yang menghubungkan Kota Makassar dan Kepulauan Selayar, menurut Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Nur Ihsan Chairuddin, sedikit banyak akan meminimalkan kendala aksesibilitas yang sejauh ini kerap menjadi keluhan.

BACA JUGA: Disebut Sebagai Salah Satu Destinasi Hidden Gem, Jadi Alasan Wings Air Kembali Terbang ke Selayar

“Pendekatan akses, amenitas dan atraksi masih terus kita sinkronisasi. Hadirnya penerbangan ke Selayar memiliki daya dukung yang kuat untuk pengembangan pariwisata di 2025 ini,” ucap Ihsan.

Program pengadaan peswat amfibi (seaplane) oleh Pemerintah Provinsi Sulsel, juga disebut menjadi titik balik dalam mengatasi persoalan akses ke beberapa destinasi wisata, sebut saja Taka Bonerate dan pulau-pulau terpencil lainnya.

“Meski masih sebatas wacana (pengadaan seaplane), namun Selayar disebut oleh Gubernur Sulsel (Andi Sudirman Sulaiman) sebagai salah satu target program,” lanjut Ihsan di depan peserta forum.

BACA JUGA: Setelah Lion Group, Trigana Air Dikabarkan Akan Buka Rute ke Selayar

Kendala akses dari Benteng sebagai Ibu Kota Kepulauan Selayar ke spot-spot wisata yang tersebar di beberapa pulau, sejauh ini memang masih dinilai bersoal.

Tantangan Ketersediaan SDM dan Sistem Pengelolaan Objek Wisata

Di tengah sejumlah peluang, tak sedikit tantangan yang menghadang dalam upaya pengembangan pariwisata di Kepulauan Selayar.

Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang hadal disebut masih menjadi barier dalam upaya tersebut.

“Ambil contoh dalam pengembangan Desa Wisata, desa dan perangkatnya, hingga masyarakat, kerap masih gamang mengartikan kehadiran desa wisata,” ungkap Rezki Utami dari Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Selayar.

BACA JUGA: Tiga Desa di Kepulauan Selayar Peroleh Pendampingan untuk Pengembangan Desa Wisata

Belum lagi jika bicara terkait guide, baik untuk aktivitas diving hingga land tour yang masih minim dari segi jumlah maupun kualitas.

“Selain jumlah guide yang terbatas, dari segi kualitas perlu terus didorong,” kata Alif Fajri, Founder Selayar Travelindo, salah satu travel agent dI Selayar.

Patta Saleh dari Selayar Dive and Adventure membeberkan kendala SDM yang perlu terus dibenahi.

BACA JUGA: Lebih Dekat dengan Jinato, Pulau Eksotis yang Jadi Lokasi Event Festival Taka Bonerate & Dive Camp 2024

“Di Selayar hanya ada 6 orang dive master dan 15 orang rescue diver. Rescue diver menurut aturan Kemenpar sudah bisa mendampingi diver,” ucapnya.

Kendala ini, oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kepulauan Selayar, terus dalam proses pembenahan.

“Ke depan perlu terus kita dorong berbagai pelatihan SDM Pariwisata serta sertifikasinya,” ucap Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disparbud Kepulauan Selayar, Akhmad Ansar.

Tuntutan Pariwisata Berkelanjutan

Isu sustainable tourism yang menjadi perbincangan global dalam beberapa waktu terakhir, terus didorong untuk diterjemahkan pada kebijakan pariwisata berskala lokal.

Laman kemenparekraf.go.id menyebut, sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan adalah pengembangan konsep berwisata yang dapat dapat memberikan dampak jangka panjang.

Dampak dimaksud adalah pada lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan bagi seluruh masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.

BACA JUGA: Hari Pariwisata Dunia: Kampung Penyu dan Ancaman Nyata Pemanasan Global

Dalam upaya mengembangkan sustainable tourism, ada empat pilar fokus yang dikembangkan.

Di antaranya pengelolaan berkelanjutan (bisnis pariwisata), ekonomi berkelanjutan (sosio ekonomi) jangka panjang, keberlanjutan budaya (sustainable culture) yang harus selalu dikembangkan dan dijaga, serta aspek lingkungan (environment sustainability).

BACA JUGA: Gelar Aksi Beach Clean Up, Disparbud Kepulauan Selayar Gandeng Komunitas SBSP

Ketua Gerakan Selayar Bebas Sampah Plastik (SBSP), Ahmad Riyadi menyoroti aspek sutainable tourism yang menurutnya cenderung masih diabaikan.

“Pariwisata berkelanjutan kerap masih menjadi anak tiri. Pada objek-objek wisata di Selayar, belum ada destinasi yang menerapkan prinsip-prinsip sustainable tourism secara komprehensip dan konsisten,” ujarnya.

“Contoh dalam hal pengelolaan sampah dan kebijakan dalam menggunakan material ramah lingkungan pada aktivitas wisata,” ucap Riyadi.

Riyadi berharap, pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada upaya menghadirkan wisatawan secara kuantiti.

“Aspek keberlanjutan dalam konteks lingkungan dan sosial adalah isu penting yang harus dikedepankan,” imbuhnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08