Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Anak-anak, remaja putri dan warga desa, berkumpul pada jalan yang membelah perkampungan dengan rumah-rumah panggung pada sisi kanan dan kirinya.
Beberapa di antara mereka dalam kondisi basah kuyup. Hari itu belangsung kegiatan mandi bersama dengan air yang ditempatkan pada baskom dan wadah lainnya,.
Seseskali terlihat aksi saling siram sembari berseda gurau. Mereka tertawa lepas saat air mengenai kepala serta bagian tubuh lainnya.
Ekspresi suka cita nampak dari wajah-wajah penduduk kampung dan juga warga pendatang yang sengaja hadir pada salah satu tradisi tahunan di Dusun Tenro, Desa Bontolempangan tersebut.
Seremonil mandi bersama itu adalah bagian dari ritual a dinging-dinging yang dihelat pada minggu ketiga bulan Muharram.
A dinging-dinging menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur masyarakat kampung akan nikmat pemberian dari Sang Pencipta berupa air yang berasal dari dari sumber mata air di kampung mereka.
A dinging-dingin , juga menjadi bagian dari harmoni antara manusia dengan alam, dimana air menjadi salah satu medium perantara.
Ritual a dinging-dinging sendiri diawali dengan songka bala (tolak bala). Dilajutkan dengan prosesi a bua jeknek (membuat air) yang secara umum merupakan kegiatan adat dengan membacakan doa-doa pada air yang telah disiapkan sebelumnya.
BACA JUGA: Dari Gudang Kopra hingga Bangunan Publik, Jejak Kolonial di Bumi Tanadoang
Air tersebut yang kemudian digunakan untuk ritual mandi bersama. Aneka makanan juga disiapkan untuk acara bersantap siang seluruh penduduk kampung.
Seluruh aktivitas, mulai dari mengangkat airr dari sumur, membacakan doa, mandi bersama dengan segala perlengkapannya, dilakukan dengan tuntunan yang diwariskan turun temurun oleh pada pendahulu di Kampung Tenro.
Mereka yang dilibatkan pada prosesi tersebut, adalah orang-orang yang dipilih sesuai syarat-syarat dan tuntunan yang sudah ada.
Desa Bontolempangan di Kecamatan Buki, Kepulauan Selayar, merupakan salah satu desa yang oleh Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar, ditetapkan sebagai Desa Wisata dengan basis pengembangan budaya dan kearifan lokal.
BACA JUGA: Masjid Tua Lalang Bata: Jejak Sejarah Masuknya Islam di Kepulauan Selayar
Selain ritual a’dingin-dingin, beberapa tradisi di desa ini, terutama di Dusun Tenro, tetap lestari hingga kini, salah satunya adalah Attojeng
A’tojeng yang dalam Bahasa Selayar berarti berayun, adalah permainan ayunan yang hampir sama dengan permainan berayun yang dikenal banyak orang.
Hanya saja, pada permainan a’tojeng, seluruh komponen ayunan terbuat dari kayu dan bambu, termasuk tambang dan juga tiang yang tingginya bisa mencapai hingga 9 meter.
Dulunya, a’tojeng menyiratkan nilai sukacita menyambut raja dan para pasukannya yang pulang dari medan perang.
Tahun 2025 lalu, Tenro diresmikan sebagai dusun temarik. “Kampung Didek” disematkan Oleh Pemerintah Kepulauan Selayar, dan diresmikan oleh Bupati Kepulauan Selayar, Muh. Natsir Ali.
Kesenian Tradisional a’didek, merupakan salah satu tradisi lisan yang sampai saat ini juga masih dapat kita saksikan.
Kesenian a’didek biasanya dipertunjukan pada upacara pesta panen, Perayaan Kelahiran atau pesta perkawinan.
A’didek merupakan kesenian tradisi lisan dalam bentuk nyanyian berbalas antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Syairnya dapat berupa ungkapan rasa gembira, persahabatan, cinta dan kasih sayang.
Ada pula tradisi yang dilakukan dalam rangka perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Sebutannya adalah Ambelu atau masyarakat Selayar lebih mengenalnya dengan sebutan ngarra’ pandang.
BACA JUGA: Kampung Tua Bitombang, Rumah Bertiang Tinggi dan Kearifan Lokal yang Tetap Lestari
Anak-anak muda Kampung Tenro dan kadang-kadang warga pendatang, berkumpul pada satu tempat (umumnya di pelataran masjid kampung) dan mengikuti aktivitas memotong daun pandang.
Alat yang digunakan berupa bambu yang telah diberi lubang. Daun pandang dimasukkan ke dalam lubang oleh perempuan, lalu si laki-laki akan memotong bagian ujung dari daun pandang tersebut.
Ngarrak pandang menjadi media interaksi para pemuda, sehingga tak jarang disebut pula sebagai ajang untuk mencari pasangan.
Selain ritual tahunan, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan masyarakat Dusun Tenro, terdapat sebuah kearifan lokal yang disebut a”rerak.
A”rerak adalah gotong royong menggarap lahan perkebunan atau aktivitas bertani lainnya.
Lahan yang dimiliki oleh warga kampung, akan digarap secara bergiliran secara bersama-sama. Tanpa si pemilik lahan harus menyiapkan upah.
Kearifan lokal ini menggambarkan semnagta gotong royong yang masih terjaga di tengah-tengah masyarakat kampung sebagai nilai yang diwariskan secara turun-temurun.