Sikapi Krisis Iklim, Ikatan Da’i Indonesia dan Pegiat Lingkungan di Selayar Dorong Green Religion saat Ramadan

Sardi
Pengurus Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Kepulauan Selayar dan perwakilan beberapa komunitas usai dialog "Ramadan, Kesalehan Sosial dan Kesadaran Ekologis" yang berlangsung di Selayar Creative Space (SCS) Bontoharu. (Foto: Istimewa)
Pengurus Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Kepulauan Selayar dan perwakilan beberapa komunitas usai dialog "Ramadan, Kesalehan Sosial dan Kesadaran Ekologis" yang berlangsung di Selayar Creative Space (SCS) Bontoharu. (Foto: Istimewa)

SELAYAR, Quarta.id- Krisis iklim menjadi ancaman  pada peradaban manusia dengan fenomena yang semakin nyata.

Eskalasi bencana, suhu bumi yang semakin meningkat, kerusakan ekosistem, hingga degradasi kualitas lingkungan, menjadi bukti bahwa  ancaman krisis iklim bukan lagi isu di masa depan. Realitas itu terpampang nyata saat ini dan menjadi alarm untuk kita lebih aware.

Kehadiran Ramadan sejatinya adalah berkah. Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan menjadi kesempatan ummat islam memperbanyak Ibadan dan amal saleh.

BACA JUGA: Pelantikan Pengurus Baru Ikadi Kepulauan Selayar, Usung Spirit Peduli dan Kolaborasi

Sayangnya, bulan puasa juga menjadi fase dimana aktivitas ummat islam menjadi salah satu pemicu meningkatnya volume sampah yang pada akhirnya menjadi polutan bagi lingkungan.

Kondisi ini disikapi oleh Ikatan Da’I Indonesia (Ikadi) Kepulauan Selayar bersama penggiat lingkungan melalui dialog dengan tajuk “Ramadan, Kesalehan Sosial dan Kesadaran Ekologis”, Minggu (15/2/2026) di Selayar Creative Space (SCS) di Bontoharu.

Ahmad Riyadi dari Gerakan Selayar Bebas Sampah Plastik (SBSP) membeberkan fakta dimana volume sampah meningkat 20 hingga 40 % saat ramadan.

BACA JUGA: (OPINI) Salah Kaprah Soal Sampah

“Peningkatan jumlah produksi sampah kita terutama sampah organik berupa sisa makanan dan kemasan pada aktivitas berbelanja dan take away menu berbuka,” ucapnya.

Data ini menurut Riyadi, merujuk pada penelitian beberapa lembaga, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2025 lalu.

Padahal, sampah, baik organik maupun non-organik yang tidak terkelola, pada umumnya akan berakhir di lingkungan ataupun di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) tanpa diintervensi sebagaimana mestinya.

BACA JUGA: Respons Gerakan Indonesia ASRI di Selayar, Organisasi Lingkungan SBSP: Idealnya Dorong Tata Kelola Sampah

“TPA kita di Selayar masih menggunakan sistem open dumping sehingga menjadi pemicu emisi dengan penimbunan sampah organik dan non-organik tanpa dipisah,” lanjut Riyadi.

Oleh Ikadi Kepulauan Selayar, fenomena belum tumbuhnya kesadaran lingkungan pada level yang baik, menjadi referensi bagi lembaga ini untuk memperkuat spirit hablum minal alam pada materi dakwah, termasuk pada ramadan tahun ini.

“Kita sadar, isu lingkungan masih jarang terdengar. Padalah agama sendiri memberi tuntunan bahwa menjaga dan memperbaiki lingkungan adalah bagian dari ibadah,” ucap Ketua Ikadi Kepulauan Selayar, Muhammad Aspa.

BACA JUGA: Hari Bumi 2024: Yuk, Kenal Lebih Dekat dengan Gerakan Selayar Bebas Sampah Plastik!

Relasi kita dengan Tuhan, sesama manusia dan alam, menurut Aspa sama pentingnya dalam konteks menjaga kehidupan dan peradaban manusia.

Dialog yang dihadiri beberapa komponen ini, memberi catatan pentingnya mendorong green religion, sebuah sikap yang menitik beratkan pada nilai-nilai spiritual yang berakar pada kepedulian terhadap alam.

Daeng Marowa dari Komunitas Alumni Jepang di Indonesia (Kaji), pada dialog ini memberi perbandingan antara negara-negara maju seperti Jepang yang jauh dari kultur islam, namun mampu menerapkan prinsip green religion dengan baik.

“Orang jepang memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap kebersihan dan upaya pelestarian lingkungan lainnya,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kerap Jadi Solusi pada Aksi Bersih Lingkungan, Ini Sederet Bahaya Membakar Sampah Plastik

Para da’i dan pemuka agama, pada akhirnya diharapkan untuk mengambil peran strategis dalam mendorong kesadaran lingkungan melalui pendekatan spiritualitas.

Apriadiy dari Perhimpunan Sarjana Kesahatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Kepulauan Selayar, juga memberi penekanan pada peran penting para pemuka agama untuk menyuarakan isu lingkungan, terutama di momen ramadan.

Hal ini merujuk pada penelitian, dimana keberadaan tokoh agama menjadi salah satu kompetensi yang paling dipercaya saat menyuarakan kampanye kesehatan dan lingkungan.

“Kampanye kesadaran dan perubahan sikap, akan lebih efektif saat disandingkan dengan pesan keagamaan,” ucap Apriadiy.

Dialog Publik “Ramadan, Kesalehan Sosial dan Kesadaran Ekologis” oleh Ikadi Kepulauan Selayar dan beberapa komunitas di Selayar, menjadi upaya mendorong perubahan pola pikir dan cara pandang berbagai elemen dalam menyikapi isu-isu sosial dan lingkungan.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08