Maut Mengintai di Balik Aktivitas Nelayan Kepulauan Selayar Menggunakan Kompresor untuk Menyelam

Ahmad Riadi
Ilustrasi aktivitas nelayan. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi aktivitas nelayan. (Foto: Istimewa)

SELAYAR, Quarta.id- Aktivitas nelayan Kepulauan Selayar menyelam dengan kompresor angin, bukan lagi cerita baru.

Bertahun-tahun nelayan pada beberapa tempat di Kepulauan Selayar memakai alat yang lazim digunakan tukang tambal ban itu.

Meskipun penuh dengan risiko, mereka tetap abai. Padahal, korbannya sudah banyak. Mulai dari yang mengalami kelumpuhan, tuli, hingga meninggal dunia.

BACA JUGA: Yayasan LINI dan Pegiat Lingkungan di Kepulauan Selayar Dorong Penguatan Tata Kelola Sampah pada Kawasan Pesisir

Akhir tahun 2025 lalu, nelayan asal Desa Barat Lambongan meninggal dunia pasca menderita kelumpuhan setelah menyelam menggunakan kompresor.

“Sebelumnya ada lagi (yang meninggal dunia) setelah menyelam (dengan kompresor),” ucap Densi (57) warga Desa Barat Lambongan kepada Quarta.id, Kamis (9/4/2026).

Akun Taman Nasional Taka Bonerate di instagram @btn_takabonerate mengeluarkan peringatan terkait fenomena tersebut, termasuk bahayanya untuk para nelayan.

BACA JUGA: Duh, Aktivitas Warga Kepulauan Selayar Ini Berpotensi Ganggu Ekosistem Laut, Peneliti CSERM-UNAS: Sebaiknya Dihindari

Kompresor ban disebut dirancang untuk mengisi angin ban, bukan untuk paru-paru manusia. Udara yang dihasilkan mengandung jelaga, oli, karbon monoksida, bahkan uap air bertekanan.

“Sekali hisap di kedalaman, nelayan bisa langsung mengalami emboli udara—gelembung udara menyumbat aliran darah ke otak. Akibatnya? Kelumpuhan seketika. Atau yang lebih cepat: mati mendadak di dasar laut,” tulis akun itu.

Kelumpuhan atau paralisis disebutkan merupakan imbas dari gelembung nitrogen yang merusak jaringan syaraf tulang belakang. Akibatnya bisa sampai lumpuh permanen.

BACA JUGA: Menengok Aktivitas CSERM-UNAS di Selayar, Kembangkan Budidaya Teripang Secara Berkelanjutan

“Karena nelayan sering naik ke peremukaan terlalu cepat. Gas nitrogen dalam darah tidak sempat keluar dan membentuk gelembung yang menyumbat aliran darah,” lanjut akun instagram @btn_takabonerate.

Taman Nasional Taka Bonerate mengingatkan masyarakat untuk lebih aware dan memilih alternatif yang beih safety.

“Jangan tunggu tetangga nelayan jadi korban berikutnya. Berhenti atau jangan paksa diri jadi angka statistik,” tutup akun itu.

Nelayan di Selayar kerap menggunakan kompresor untuk menyelam pada aktivitas penangkapan teripang dan berburu ikan dengan memanah.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08