SELAYAR, Quarta.id- Ikan kering sangat identik dengan Kepulauan Selayar sebagai daerah dengan 130 pulau dan bentang pantai mencapai 6000 km lebih.
Produk ikan kering atau ikan asin lazim ditemui pada berbagai tempat di Bumi Tanadoang, julukan Kepulauan Selayar.
Tidak salah, karena sebagian besar warga Kepulauan Selayar berprofesi sebagai nelayan dan mata pencaharian lain yang mengandalkan keberadaan laut, termasuk di Dusun Subur, Kecamatan Bontoharu.
BACA JUGA: Rumah BUMN dan Komunitas SBSP Dorong UMKM di Kepulauan Selayar Lebih Ramah Lingkungan
Pada perkampungan berjarak sekitar 7 km arah selatan Kota Benteng, Ibukota Kepulauan Selayar ini, pekerjaan tetap warganya adalah nelayan dan juga petani.
Membuat olahan ikan asin menjadi aktivitas sehari-hari warga, terutama kaum perempuan.
Selain untuk konsumsi, ikan asin hasil produksi warga Dusun Subur juga dijual ke pasar-pasar tradisional dan ke Kota Benteng sebagai pusat aktivitas dan perekonomian di Kepulauan Selayar.
BACA JUGA: Menengok Aktivitas CSERM-UNAS di Selayar, Kembangkan Budidaya Teripang Secara Berkelanjutan
Proses pengolahan ikan asin oleh warga Dusun Subur, sejauh ini dilakukan dengan cara tradisional
Adalah mahasiswa Fakultas Vokasi Unhas Selayar yang kemudian hadir dengan inovasi alat pengering ikan berbasis Internet of Things (IoT).
Alat tersebut dibuat sebagai bagian dari Program Ormawa Membangun Negeri (POMN) Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan diserahterimakan pada Jumat (15/112024) di Dusun Subur, Desa Bontosunggu.
“Sistem yang kami bangun berfungsi mempercepat proses pengeringan ikan.dengan memanfaatkan mikrokontroler sebagai pusat kendali,” ungka Dinul Yusrah Febriawan, salah seorang anggota tim saat presentasi di depan warga Dusun Subur.
BACA JUGA: Harum Jeruk Selayar dan Manisnya Peluang Agrowisata
Menurut Dinul, aplikasi Internet of Things yang oleh mahasiswa Vokasi Unhas Selayar diberi nama Blink, berfungsi sebagai sistem monitoring suhu, kelembapan, serta kondisi peralatan dalam proses pengeringan.
“Kondisi suhu dalam alat diatur dari perangkat heater dan blower yang kesemuanya dikontrol dari aplikasi Blink pada handphone android,” tambah Dinul.
Ketua Tim A.Windi Paradiba menyebut, dari hasil uji coba, ikan asin yang dihasilkan dari alat pengering rancangan mahasiswa Vokasi Unhas Selayar, memiliki warna yang lebih cerah dan dipastikan lebih higienis karena terhindar dari serangga, debu dan semacamnya saat proses pengeringan.
BACA JUGA: Lakukan Penelitian di Kepulauan Selayar, Akademisi Ini Ingatkan Bahaya Mikroplastik
“Ikan asin yang diproduksi dengan alat yang dirancang tim kami akan kering lebih cepat, yakni satu hari, dibanding pengeringan dengan cara biasa yang bisa memakan waktu hingga dua hari,” ucap Windi.
Alat yang telah diserahkan akan di supervisi penggunaannya oleh mahasiswa Vokasi Unhas Selayar, termasuk kontrol terhadap kualitas ikan yang dihasilkan.
“Untuk sementara waktu, ikan akan kita kirim ke laboratorium Unhas di Makassar untuk memastikan kualitasnya dari semua aspek,” tutur Windi.
Siap Diaplikasikan pada Seluruh Wilayah Kepulauan Selayar
Alat pengering ikan berbentuk kotak dengan energi listrik yang berasal dari panel yang terpasang pada bagian atasnya ini, siap diduplikasi pada berbagai wilayah desa di Kepulauan Selayar.
“Dengan ukuran yang bisa disesuaikan serta proses pembuatan dengan bahan yang mudah diperoleh, alat pengering ikan berbasis IoT dapat dibuat untuk kebutuhan di desa-desa di Selayar,” ungkap Dinul.
Biaya yang dibutuhkanpun berkisar antara 5 hingga 10 juta, tergantung ukuran yang dibutuhkan desa bersangkutan.
BACA JUGA: Tiga Desa di Kepulauan Selayar Peroleh Pendampingan untuk Pengembangan Desa Wisata
“Alat yang dirancang tim kami dapat pula untuk teripang dan hasil laut lainnya yang butuh proses pengeringan,” lanjut Dinul.
Ketua Tim A.Windi Paradiba menyampaikan kesiapan timnya dan Fakultas Vokasi Unhas Selayar untuk mendampingi desa-desa di Selayar dalam proses produksi hingga konsultasi dalam penggunaan dan quality control produk.
“Sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, pasti kami siap melakukan pendampingan pembuatan alat sampai proses produksi dan packaging,” imbuh Windi.