Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Perusahaan daerah yang memperoleh mandat dalam pengelolaan air bersih, kerap diperhadapkan pada persoalan yang kompleks.
Disatu sisi, lembaga yang jamak disebut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ini, menjadi garda terdepan dalam hal penyediaan kebutuhan dasar masyarakat.
Di sisi lain, badan usaha pengelola air bersih di daerah, merupakan entitas bisnis yang harus bekerja secara profesional dalam berbagai aspek.
Dua kepentingan ini melahirkan tuntutan pada kinerja PDAM yang bermuara pada kualitas pelayanan, dan dalam waktu yang sama, memberi kontribusi pada pendapatan daerah dalam bentuk deviden.
Data 2023 lalu menyebut, hampir separuh perusahaan daerah yang bergerak pada pengelolaan air bersih, belum mampu menerapkan prinsip full cost recovery dengan baik
Kementerian PUPR melalui Direktur Jenderal Cipta Karya menungkap, hanya sekitar 51% PDAM yang dalam kondisi sehat, sementara sisanya dalam keadaan kurang sehat bahkan ada yang sakit.
Di Kepulauan Selayar, Perumda Air Minum Tirta Tanadoang (sebelumnya PDAM Kepulauan Selayar) mengalami pasang surut dalam perjalanannya.
BACA JUGA: Nakhoda Baru PAM Tirta Tanadoang dan Cerita Pilu Warga Dusun Tajuia
Direktur Perumda Air Minum Tirta Tanadoang, Darmawang, mengakui kondisi salah satu perusahaan daerah milik Pemda Kepulauan Selayar itu, sedang dalam kondisi tak ideal saat dirinya didaulat menjadi pucuk pimpinan.
“Kas perusahaan ada di level minus saat kami diangkat (sebagai direktur),” ucapnya saat berbincang dengan Quarta.id, Senin (1/2/2026) di ruang kerjanya.
Tak hanya itu, jumlah piutang yang mencapai angka 7 miliar rupiah, menjadi pekerjaan rumah yang menyebabkan perusahaan ada dalam kondisi tidak sehat.
“Belum lagi, beban kerusakan infrastruktur pada beberapa instalasi dan fasilitas yang dimiliki perusahaan,” lanjut Darmawang.
Gerak Cepat Melalui Digitalisasi, Restrukturisasi dan Perbaikan Budaya Kerja
Saat dilantik sebagai Direktur Perumda Air Minum Tirta Tanadoang pada Oktober 2025 lalu, Darmawang menyebut, harus melakukan pembenahan secara menyeluruh, termasuk pada hal-hal paling elementer, seperti standar pelayanan, SOP, hingga budaya kerja.
Loket pembayaran dan aduan, dipindahkan ke Mall Pelayanan Publik (MPP) yang dinilai lebih representatif.
“Selain lebih layak (lokasi di MPP), untuk mekanisme antrianpun kami perbaiki sehingga pelanggan diupayakan tidak menunggu lebih dari lima menit,” ucapnya.
Kultur kerja, tak luput dari pembenahan dalam rangka mendorong kinerja perushaan agar lebih produktif
“Bahkan untuk jam kerja, harus kembali dibenahi dengan menerapkan abesnsi digital ” ucap Darmawang.
Tak hanya pada abesn kehadiran. sistem pencatatan dan pembayaran, hingga tools informasi publik, seluruhnya diarahkan pada sistem digital.
Sosial media dan website lembaga dihadirkan untuk menjadi kanal informasi publik dan sekaligus sebagai tools pelayanan dua arah.
“Digitalisasi penting, tidak untuk kebutuhan image semata, tetapi juga untuk efisiensi dan upaya memperbaiki pelayanan,” lanjut pria 37 tahun tersebut.
Dalam waktu tak lama lagi, pelanggan PDAM di Kepulauan Selayar, dapat menikmati mekanisme pembayaran online melalui mobile banking Bank Sulselbar.
“Untuk pembayaran melalui fasilitas mobile banking selain Bank Sulselbar, sedang dalam penjajakan, termasuk kemungkinan pembayaran via minimarket dan dompet digital,”
Di luar digitalisasi dan budaya kerja perusahaan, efisiensi digenjot melalui restrukturisasi manajemen dan perbaikan pada seluruh kerusakan infrastruktur.
“Kebocoran akibat kerusakan pada instalasi dan potensi loss akibat makanisme pembayaran konvensional, kami benahi sejak pertama kali dilantik (sebagai direktur),” lanjut Darmawang.
Hasilnya, pada triwulan pertama sejak menjabat, dia menyebut dampak signifikan terlihat dengan meningkatnya paymnet compliance (ketaatan pelanggan dalam membayar iuran) hingga 70 %.
“Sejak menjabat sebagai direktur, ketaatan pelanggan hanya di angka 50 persen atau hanya 4 ribu yang taat membayar tepat waktu dari 8 ribu lebih pelanggan,” ungkapnya.
Kinerja keuangan pun mulai memperlihatkan trend menggembirakan. “Dari minus, sekarang kami bisa saving dalam hitungan ratusan juta rupiah,” pungkas Darmawang.