Sukacita Perayaan Kemerdekaan dan Ironi Indonesia di Kampung Lengu

Ahmad Riadi
Suasana Dusun Lengu di Desa Bontolebang, Kepulauan Selayar. (Foto: Istimewa)
Suasana Dusun Lengu di Desa Bontolebang, Kepulauan Selayar. (Foto: Istimewa)

SELAYAR, Quarta.id- “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya..” sepenggal bait dari lagu Indonesia Raya, mengiringi bendera merah putih yang perlahan menapaki puncak tiang di tengah terik matahari yang bersinar cerah pada pagi menjelang siang.  

Bukan di IKN dengan bangunan megah nan futuristik, bukan pula di Istana Merdeka, di tengah hirup pikuk kota Jakarta yang jadi pusat ekonomi dan peradaban Indonesia.

Upacara bendera pada perayaan 17 Agustus itu, berlangsung pada sebuah dusun terpencil, beribu-ribu kilometer dari lokasi para pesohor dan pembesar negeri ini merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79.

BACA JUGA: Kampung Pandai Besi Tajuiya: Riuh Besi Beradu yang Tak Seramai Dulu Lagi

Di Dusun Lengu, pada pinggiran hutan mangrove Pulau Pasi Gusung, Kepulauan Selayar, pada sebuah tanah lapang di tengah perkampungan, puluhan anak kecil, ibu-ibu dan warga kampung, penuh khidmat melewatkan upacara pengibaran bendera yang diinisiasi oleh sejumlah LSM dan penggiat aktivitas sosial di Selayar, Sabtu (17/8/2024).

Seorang Ibu tampak menyeka air mata saat sang saka merah putih sampai di puncak tiang. “Baru kali ini kami ikut upacara seperti ini,” ucapnya penuh haru.

Senada dengan itu, Malkiadi (32 tahun) Kepala Dusun Lengu, turut terbawa suasana sendu.

“Senang bercampur haru, kampung kami penuh dengan keprihatinan, tapi bisa juga merasakan perayaan kemerdekaan,” ungkapnya.

Pengakuan Malkiadi bukan tanpa alasan. Sebagai tanah tumbuh, tempat mereka bermukim berisiko, sewaktu-waktu menjadi kubangan karena banjir rob saat air laut sedang pasang.

BACA JUGA: Anak Muda Ingin Indonesia Lebih Demokratis

“Bisa kapan saja (terjadinya air pasang, red), tergantung kondisi air laut. Apalagi kalau sedang musim barat,” ucap Malkiadi.

“Pada kondisi tertentu bisa sampai 1 meter atau lebih, untuk rumah beton, air sudah pasti masuk ke dalam rumah,” lanjut laki-laki yang menamatkan pendidikannya pada sekolah kejuruan.

Meski demikian, air pasang hingga menggenangi wilayah perkampungan adalah kondisi lazim di Dusun Lengu, dan hanya menjadi sekelumit dari cerita pilu warga kampung.

Kesulitan akses air bersih juga sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari keseharian dari dusun yang dihuni 102 kepala keluarga ini.

BACA JUGA: Qurratu Ainin: Rayuan Pulau Kelapa yang Membawanya ke Bumi Tanadoang

“Saat musim kemarau seperti sekarang, kami harus naik sampan ke kampung seberang untuk memperoleh air tawar. Air sumur di kampung sini asin dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Ibu Andi, salah seorang warga kampung saat berbincang kepad Quarta.id.

Tidak salah jika pada tiap rumah, terdapat penampungan berupa drum dari plastik, jerigen berukuran besar, bak baik yang permanen maupun portable, dan segala macam wadah untuk menyimpan air hujan.

Belum lagi listrik dari tenaga surya yang belum sepenuhnya berfungsi baik, akses jalan dan jembatan yang pada beberapa bagian mengalami kerusakan, meskipun tetap dapat digunakan.

Dusun Lengu mungkin hanya sebagian dari begitu banyaknya perkampungan, terutama pada pulau-pulau kecil yang hingga hari ini belum benar-benar bisa merasakan nikmat dan indahnya kemerdekaan yang katanya harus diisi dengan Pembangunan.

Jika hari itu mereka bersuka cita dan bersorak sorai mengikuti serangkaian acara dan aneka permainan, bisa jadi karena mereka memang butuh setitik keriaan di tengah rutinitas dan keseharian yang serba prihatin.

BACA JUGA: Tiga Desa di Kepulauan Selayar Peroleh Pendampingan untuk Pengembangan Desa Wisata

Saat anak-anak mereka menikmati suasana, Baso (55 tahun) bercerita bagaimana dirinya menjalani keseharian sebagai nelayan pancing sepanjang hidupnya.

“Cukup untuk bertahan hidup, meskipun kadang-kadang ikan juga mulai sulit untuk didapat,” ucap bapak tiga orang anak itu.

Dari Dusun Lengu, Desa Bontolebang, Pak Baso, dan warga kampung yang letaknya dapat diakses hanya 15 menit dari Ibukota Kabupaten, ikut larut dari atmosfir perayaan kemerdekaan seperti orang-orang kebanyakan.

Tetapi jangan ajari mereka tentang cara mengisi kemerdekaan, karena sepanjang waktu, mereka sudah cukup lelah untuk sekedar bertahan dalam segala keterbatasan.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08