Tiga Rekomendasi Objek Wisata Sejarah di Selayar untuk Aktivitas Ngabuburit

Ahmad Riadi
Museum Tanadoang, salah satu objek kunjungan untuk tujuan ngabuburtit di Kota Benteng, Kepulauan Selayar. (Foto: IST)
Museum Tanadoang, salah satu objek kunjungan untuk tujuan ngabuburtit di Kota Benteng, Kepulauan Selayar. (Foto: IST)

SELAYAR, Quarta.id- Ngabuburit menjadi tradisi sosial yang lekat dengan aktivitas masyarakat di Seluruh Indonesia saat Ramadan tiba.

Istilah ngabuburit sendiri berasal dari bahasa Sunda, kata burit berarti waktu sore atau menjelang matahari terbenam.

Secara umum, ngabuburit dimaknai sebagai kegiatan menanti waktu berbuka puasa pada bulan Ramadan.

BACA JUGA: Spot untuk Aktivitas Ngabuburit di Selayar, dari Rimbunnya Mangrove hingga Sejuknya Alam Perbukitan

Dibeberapa daerah, ngabuburit memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. mulai dari yang nuansanya spiritual, hingga yang sifatnya tradisi turun temurun.

Ngabuburit juga bisa menjadi ajang untuk kegiatan yang arahnya rekreatif.

Jika Anda sedang berada di Kota Benteng, Ibu Kota Kepulauan Selayar pada momen Ramadan, objek wisata sejarah berikut ini, mungkin bisa menjadi pilihan ngabuburit sembari menambah khazanah pengetahuan tentang Selayar di masa lampau.

Museum Tanadoang

Museum Tanadoang terletak sekitar 4 km arah Selatan Kota Benteng. DI tempat ini tersimpan benda-benda kuno penginggalan sejarah Kepulauan Selayar. Ada keping uang logam dan keramik yang tercatat sebagai benda purbakala dari Cina pada zaman Dinasti Ming, Swatow dan Dinasti Sung.

Di museum tersebut juga terdapat miniatur perahu layar Kepulauan Selayar yang disebut Lambo. Lambo pada zaman dahulu digunakan sebagai alat transportasi ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

BACA JUGA: Masjid Tua Lalang Bata: Jejak Sejarah Masuknya Islam di Kepulauan Selayar

Diruangan lain kita akan menemui pakaian adat Kepulauan Selayar yang dikenakan pada sebuah maniken. Pakaian adat ini digunakan oleh para raja dan pemuka adat di zaman dahulu.

Adapula keris dan senjata yang oleh raja-raja zaman dahulu digunakan untuk berperang atau ritual adat lainnya pada bagian lain di Museum Tanadoang.

Ex Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Selayar

Salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda di Kepulauan Selayar yang tersisa saat ini adalah rumah jabatan Bupati, Lembaga Pemasyarakatan Kepulauan Selayar dan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Selayar.

Di ketiga bangunan tersebut, arsitektur Belanda sangat jelas terlihat, mulai dari corak bangunan sampai ornamen – ornamen yang terdapat pada bangunan tersebut.

Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Selayar saat ini telah berubah status menjadi Gedung Dekranasda pasca peresmian Rujab baru.

Gedung Dekranasda dapat dikunjungi sewaktu-waktu dengan meminta izin pada pos penjagaan yang ada di gerbang masuk areal.

Museum Gong Nekara

Di Kabupaten Kepulauan Selayar, tepatnya di Dusun Bontobangun ( 4 km sebelah selatan kota Benteng ), terdapat sebuah benda peninggalan sejarah berupa Gong Nekara yang konon menjadi nekara tertua di Asia Tenggara.

Nekara tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk dari Kampung Rea-Rea yang bernama Sabuna pada tahun 1686, saat dirinya sedang mengerjakan sawah.

Pada tahun 1760 nekara tersebut dipindahkan ke Bontobangung dan menjadi kalompoang/arajang (benda keramat) Kerajaan Bontobangun, salah satu kerajaan di Pulau Selayar.

BACA JUGA: Kampung Tua Bitombang, Rumah Bertiang Tinggi dan Kearifan Lokal yang Tetap Lestari

Para ahli sejarah menafsirkan, gong nekara itu merupakan peninggalan zaman perunggu.Terbuat dari perunggu dengan bentuk menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi.

Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya motif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah, dan ikan 18 ekor.

Sementara itu, di permukaan gong bagian atas terdapat 4 arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagi pegangan.

Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar, seperti silinder, badan, dan bahu berbentuk cembung.

.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp-Image-2024-01-11-at-07.35.08