Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Sebagai salah satu bagian dari ekosistem pesisir, padang lamun mungkin tak sefamiliar mangrove atau karang.
Lamun adalah tumbuhan air berbunga yang biasanya hidup di perairan dangkal hingga kedalaman 90 meter.
Dikutip dari econusa.id, di Indonesia, terdapat 15 jenis lamun dari total 60 spesies lamun yang ada di seluruh dunia. Padang lamun adalah sebutan untuk hamparan tumbuhan laut yang menutupi suatu area laut dangkal yang dapat terbentuk oleh satu jenis lamun atau lebih.
Padang lamun bisa disebut sebagai ekosistem karena di dalamnya terdapat hubungan timbal balik antara lamun sebagai tumbuhan dan aneka hewan laut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2018, luas area lamun di Indonesia yang sudah tervalidasi dan terverifikasi adalah 293.464 ha.
BACA JUGA: Terkenal Lezat dan Bergizi Tinggi, Ikan Kakatua Sebaiknya Tidak dikonsumsi, ini Alasannya!
Sayangnya, pada saat ini banyak lamun di seluruh dunia yang mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, seperti pencemaran air laut dan keberadaan fasilitas produksi minyak di tengah laut. Bahkan, menurut sebuah penelitian, sejak tahun 1980 dunia kehilangan lamun sebesar lapangan sepak bola setiap 30 menit (Dennison, 2009).
Padahal, lamun memiliki sejumlah manfaat luar biasa untuk kehidupan manusia, berikut diantaranya, sebagaimana dikutip dari sumber yang sama:
1. Habitat dan sumber makanan bagi aneka biota laut
Padang lamun adalah rumah yang juga menyediakan makanan bagi hewan laut yang kebanyakan adalah ikan-ikan kecil. Selain itu, lamun juga merupakan makanan utama bagi sejumlah biota yang terancam punah, seperti dugong dan penyu. Jika jumlah tumbuhan lamun terus berkurang, maka hewan-hewan tersebut pun bisa punah lebih cepat karena kekurangan makanan.
2. Penyerap karbon
Fungsi padang lamun lainnya yang membuatnya sangat penting adalah sebagai penyerap karbon. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nature Geoscience, ekosistem padang lamun dapat menyerap karbon dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan hutan. Diperkirakan bahwa setiap hektare padang lamun dapat menyerap karbon hingga 6,59 per tahun. Karena kemampuannya ini, maka tak heran jika sebetulnya padang lamun adalah salah satu senjata penting untuk melawan krisis iklim.
3. Penahan arus dan gelombang
Selanjutnya, daun tumbuhan lamun yang lebat berguna untuk memperlambat arus dan gelombang air laut yang akan mengarah ke daratan. Sehingga, air laut di sekitar pantai bisa menjadi lebih tenang dan erosi pantai pun lebih bisa dicegah. Hal ini tentunya juga menguntungkan masyarakat pesisir karena mereka dan tempat tinggal mereka menjadi lebih aman dari terjangan gelombang laut.
4. Menjernihkan perairan laut dangkal
Manfaat super lamun berikutnya adalah dapat membuat perairan laut dangkal terlihat lebih jernih. Ini karena lamun dapat menyaring debu-debu dan kotoran yang berada pada permukaan air laut. Keberadaan lamun pun bisa menjadi indikator air laut yang jernih dan memiliki ekosistem yang sehat. Jika air laut terlihat kotor, maka biasanya hanya ada sedikit lamun di area laut tersebut.
5. Manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar
Selain memberikan manfaat bagi ekosistem laut secara keseluruhan, banyak masyarakat yang memanfaatkan lamun untuk dijadikan kerajinan tangan dan barang-barang lain yang bersifat ekonomis. Misalnya adalah dianyam menjadi keranjang, tikar, dan tas hingga dijadikan pupuk. Nantinya, barang-barang ini bisa mereka manfaatkan untuk keperluan mereka sendiri maupun dijual kepada para turis.
Dipromosikan Pemda Kepulauan Selayar Sebagai Potensi Carbon Trading
Mengutip darikepulauanselayarkab.go.id, Potensi perdagangan karbon (carbon trade) dari ekosistem padang lamun di Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi fokus utama dalam pertemuan antara Bupati Kepulauan Selayar, Muh. Natsir Ali dan Mendagri Tito Karnavian di Jakarta.
Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (18/2/2026), dimana Bupati Kepulauan Selayar didampingi Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
BACA JUGA: Road Show Bupati Kepulauan Selayar di Jakarta, Upayakan Penanganan Abrasi hingga Internet Daerah 3T
Hadir pula pada pertemuan itu, Sekretaris Daerah Kepulauan Selayar, Andi Abdurrahman.
Dalam pemaparannya, Bupati Muh. Natsir Ali menegaskan bahwa Kepulauan Selayar memiliki ekosistem padang lamun seluas 10.397 hektare yang berperan besar sebagai penyerap karbon biru (blue carbon).
Terkait kontribusi Kepulauan Selayar dalam menjaga stok karbon, Bupati memohon penambahan alokasi Dana Bagi Hasil (DBH).
Hal itu sebagai bentuk keadilan fiskal atas kontribusi daerah dalam menjaga stok karbon nasional serta sumber daya perikanan.