Ahmad Riadi
SELAYAR, Quarta.id- Bumi Tanadoang, julukan Kepulauan Selayar, tak hanya kaya akan potensi wisata bahari.
Pada beberapa tempat, Selayar menyimpan keindahan tersembunyi yang sayang untuk dilewatkan ketika menyambangi daerah dengan 130 pulau ini.
Di Pulau Pasi Gusung terdapat sebuah gua yang oleh penduduk setempat disebut Gua Balo Jaha.
Balo sendiri, dalam bahasa Selayar berarti lubang., Jaha berarti Jawa. Suatu waktu, masyarakat menemukan mayat tanpa identitas di gua ini.
BACA JUGA: Senyum Sumringah Warga Dusun Tajuia Sambut Bantuan Fasilitas Air Bersih dari PLN Indonesia Power
Diduga, mayat tersebut hanyut dari Pulau Jawa sehingga menjadi cikal bakal penamaan Gua Balo Jaha.
Spot ini terletak di Desa Kahu – Kahu, Kecamatan Bontoharu. Bisa ditempuh dengan perjalanan menggunakan perahu nelayan selama kurang lebih 20 menit.
Gua semi vertikal ini memeiliki diameter sekitar 15 meter dengan sumber mata air di dalamnya.
Meskipun karakter air di dalam gua sedikit payau, wisatawan kerap menikmati aktivitas berenang sembari menikmati suasana lengang di dalam gua.
BACA JUGA: Tana Tijuk: Jalur Anti Mainstream Untuk Pegiat Jogging dan Berjalan Kaki di Bumi Tanadoang
“Dari bibir Pantai Jeneiya di Desa Kahu-kahu berjalan ke lokasi sekitar 10 menit melalui jalan setapak,” ucap Kasriadi, guide lokal di Pulau Pasi Gusung kepada Quarta.id, Minggu (8/2/2026).
Didalamnya, terdapat kawanan kelelawar yang membuat aroma khas hewan kalong tersebut, menyeruak ketika pengunjung menginjakkan kaki di dasar gua.
Panorama stalakmita dapat dinikmati di sejumlah dinding gua.

Selain Balo Jaha, di Dusun Tajuia, Desa Bungaiya, sekitar 29 km dari Kota Benteng, Ibu Kota Kepulauan Selayar, terdapat gua dengan sember mata air didalamnya. Masyarakat menamainya Sumur Tajuia.
Konon, ratusan tahun yang lalu, gua ini hadir akibat tanah yang ambruk.
Masyarakat mengetahui perihal mata air di tempat itu, setalah seekor anjing peliharaan warga terlihat muncul dari dalam gua dalam kondisi lidah basah.
Masyarakat Tajuia kala itu, berinisiatif menuruni dasar gua dan menemukan air yang ternyata merupakan sungai bawah tanah.
BACA JUGA: Kampung Pandai Besi Tajuiya: Riuh Besi Beradu yang Tak Seramai Dulu Lagi
Dibuatlah tangga dari kayu dengan tinggi sekitar 20 meter untuk menjadi jalur penurunan saat warga ingin mengangkat air dari dasar gua.
Berpuluh-puluh tahun, Sumur Tajuia menjadi sumber air untuk konsumsi sehari-hari warga Tajuia dan sekitarnya.
Pada tahun 2000 an, tangga kayu diganti dengan beton. Konsytruksinya dibuat sedemikian rupa dengan kemiringan yang sedikit lebih landai ketimbang tangga sebelumnya.
Kini masyarakat tidak lagi menuruni gua tersebut. Pemerintah Kepulauan Selayar menjadikan gua tersebut sebagai salah satu sumber air baku untuk kemudian dialirkan melalui pipanisasi.
Meski demikian, beberapa orang kerap masih mengunjungi lokasi ini untuk memperoleh sensasi menapaki satu demi satu anak tangga dan menikmati panorama di dalam gua.
Ada stalakmit pada didning gua dan batu yang bertumpuk pada berbagai titik.
Beberapa tumbuhan berukuran kecil, sedang dan pohon yang menjulang melewati bibir gua, menambah eksotisme di tempat ini.
