Ahmad Riadi
Kesambi atau dalam bahasa Selayar disebut bakdok, mungkin tak sepopuler durian, apel, rambutan atau buah-buahan mainstream lainnya.
Jangan tanya tentang buah ini kepada kalangan Gen Z, apalagi Gen Alpah. Bisa jadi, sedikit diantara mereka yang mengenal buah dengan nama latin Schleichera oleosa ini.
Tapi tidak dengan anak 90-an di Selayar. Saat mereka remaja, bakdok begitu populer dan menjadi primadona.
Kala itu, kesambi bisa didapatkan di pasar-pasar. Atau mencarinya langsung ke hutan untuk mereka yang bermukim di perkampungan.
Seiring perkembangan zaman, kesambi mulai terpinggirkan oleh kehadiran buah-buahan lain yang dengan mudah diperoleh. Kondisi ini juga terjadi di Bumi Tanadoang, julukan Kepulauan Selayar.
Kesambi sendiri termasuk keluarga Sapindaceae dan dikenal sebagai pohon yang sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Kesambi mampu tumbuh di tanah kering berbatu dengan curah hujan rendah. Tidak salah jika kesambi banyak ditemui pada beberapa wilayah Kepulauan Selayar dengan kondisi tanah kering.
Buah ini memiliki ragam penamaan di berbagai daerah di Indonesia. Jika di Selayar disebut bakdok, Di Bali dikenal dengan nama sabrang.
Di Nusa Tenggara Timur disebut kasambi atau kechapi lokal. Sementara gosale atau kalabei adalah nama tanaman ini di wilayah Sulawesi.
Artinya, kesambi merupakah buah tradional yang lekat dengan hidup dan peradaban masyarakat lokal di berbagai daerah Keberadaanya menjadi simbol daya tahan alam tropis.
Daging buahnya berwarna kuning dengan rasa khas perpaduan manis, asam dan sedikit pekat. Mungkin tak begitu saja disukai.
Remaja Selayar di tahun 90-an kerap menjadikannya asinan. Dicampur sedikit gula merah, cita rasanya berubah menjadi lebih nikmat.
Di tengah ancaman krisis iklim, pohon kesambi memiliki peran ekologis yang sangat kuat. Mampu tumbuh dalam berbagai kondisi, kesambi dapat membantu menahan erosi dan memperbaiki struktur tanah.
Di tengah kondisi banyak tumbuhan yang mulai tidak adaptif dengan kondisi iklim, pohon kesambi tetap bertahan untuk menopang rantai kehidupan.
Selain manfaat ekologis, beberapa jurnal dan penelitian memberikan fakta baru terkait tumbuhan kesambi.
Pada artikel ilmiah yang diterbitkan pada website Universitas Abdulrachman Saleh Situbonndo, unars.ac.id, disebutkan potensi besar biji kesambi untuk kebutuhan energi di masa depan.
Disbutkan bahwa biji buah kesambi merupakan tanaman yang tidak tergolong bahan pangan sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku sumber energi terbarukan.
Biji buah kesambi dalam artikel itu disebut dapat diproduksi menjadi biopelet dan telah diuji karakteristiknya.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai kalor rata-rata biopelet dari biji biji buah kesambi sebesar 5.520,22 kal/gram, kadar air sebesar 10,39%, kadar abu sebesar 0,318%.
Kesambi disebutkan menjadi salah satu bahan baku untuk biopelet dengan jumlah yang sangat berlimpah di Indonesia.